Langsung ke konten utama

Belajar Bermimpi di Hexagon City

Akhirnya nulis di blog lagi, setelah 2 bulan lebih blog ini jadi sarang laba-laba 😆


Setelah bermain di hutan, melalui setahap demi setahap tantangan yang hadir di sana, kini tibalah saya di sebuah kota yang belum pernah ada sebelumnya, Hexagon City. Sebuah kota impian, yang di dalamnya berisi warga-warga yang produktif dengan ide-ide kreatif yang penuh solusi. 



Hexagon City didirikan oleh founding mother, seseorang yang menemukan pulau Cahaya dan membangun peradaban di sana. Hexagon City akan dipimpin oleh seorang walikota yang dibantu oleh jajarannya. Di sana juga terdapat gubernur bank yang akan mengelola aset kota. Kami, para warganya, disebut Hexagonia. Hexagonia adalah orang-orang terpilih dengan integritas yang tinggi.



Bukan IIP namanya kalau nggak ada kejutan. Di pekan pertama kami menjadi Hexagonia, kami diajak bermimpi setinggi langit oleh founding mother. Saya pribadi merasa canggung dan bingung di awal. Apakah karena saya sudah tidak lagi bisa bermimpi? Apakah saya telah berubah dari insan optimis penuh impian menjadi insan pesimis? Ah, hidup memang keras. Tapi bukan berarti kita tidak berhak bahagia dan bermimpi, kan?


Kejutan dan mimpi dimulai dari sepetak tanah yang kami dapat dari founding mother untuk dibangunkan Hexa House di atasnya. Ya, semua rumah di Hexagon City berbentuk Hexagon. Para Hexagonia bebas membuat sendiri denah dan bangunan rumah mereka. Di sini lah saya kembali belajar berani bermimpi. Mimpi itu gratis, dear. Kenapa harus takut bermimpi? Apakah mimpimu akan terwujud seiring waktu, atau tetap tergantung menjadi mimpi, atau mungkin memudar dan terlupa, semua tergantung pada dirimu sendiri. Apakah mimpimu menggairahkan hidupmu? Apakah mimpimu memberimu energi untuk bergerak? Begitu kira-kira selftalk yang saya lakukan di hari-hari pertama menerima sebidang tanah imajiner tersebut. Saya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. 

Setelah mencoba ngulik beragam aplikasi desain rumah dan berakhir kesal karena nggak jadi-jadi juga (mendesain dalam bentuk grafis dari 0 adalah salah satu kelemahan saya 😅), saya pun akhirnya memilih Canva untuk membantu saya memvisualisasikan imajinasi saya. Dan, inilah rumah saya di Hexagon City! Sebuah rumah yang membuat saya produktif mencipta dengan 3 mantra: main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng bersama keluarga. Ya! Passion yang saya pilih di kelas ini adalah Keluarga, karena saya suka, senang, bahagia, dan sangat berenergi saat dekat dengan keluarga, juga saat mengobrol, bermain, dan beraktivitas bersama sekeluarga.





Fasyabita Hexhouse adalah rumah tumbuh yang ruangan maupun bangunannya bisa bertambah seiring waktu dan kebutuhan. Saat ini Fasyabita Hexhouse terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah adalah public area kami, sedangkan lantai atas merupakan private area. 

Yuk, saya ajak jalan-jalan ke Fasyabita Hexhouse!


Saat Anda memasuki halaman rumah kami, Anda akan menjumpai sebuah area terbuka yang luas. Area terbuka ini berbentuk Hexagon yang mengelilingi bangunan utama. Di bagian depan terdapat tacit area, sebuah area yang digunakan untuk mengobrol di ruang terbuka. Sebelah kanan dan kirinya adalah sport zone dan playground, tempat anak-anak kami aktif bermain dan bergerak. 

Sekarang mari saya ajak Anda masuk ke lantai bawah rumah kami. Anda akan disambut dengan sebuah ruangan luas tempat anak kami bermain. Kami menamakannya laboratorium eksplorasi anak. Di sana tersedia banyak alat bantu permainan sekaligus media edukasi yang mendukung proses belajar mereka. Kami juga menyediakan area khusus bagi saya dan suami untuk menerima tamu dan mengobrol. Selain sebagai laboratorium eksplorasi, ruangan luas tersebut juga kami gunakan untuk kegiatan belajar dan berbagi kami kepada warga Hexagon City yang lainnya.


Masih di lantai yang sama, ada ruang digital dan studio. Ruang digital adalah ruangan untuk berselancar di dunia maya, sedangkan studio merupakan ruangan yang kami gunakan untuk bersilaturahim dengan teman-teman di luar sana melalui udara. Ruang tersebut juga menjadi ruang produksi bagi kami yang saat ini sedang membangun channel keluarga kami di internet. Baik ruang digital maupun studio terhubung ke sisi taman belakang rumah kami melalui sebuah pintu.


Di sisi kanan dari lantai bawah akan dijumpai perpustakaan dan galeri karya keluarga kami. Sisi tersebut terhubung ke taman samping kanan melalui pintu kaca geser. Di dekat area perpustakaan ada sebuah area khusus untuk sholat bagi tamu yang sedang berkunjung ke rumah kami.


Mari berpindah ke sisi kiri. Di sana ada dapur dan ruang makan yang cukup luas. Dapur dan ruang makan tersebut terhubung ke kebun sayur dan herbs milik kami melalui pintu kaca geser. 


Sekarang yuk kita ke lantai atas!


Lantai atas terdiri dari kamar-kamar, area ajaib karena bisa digunakan untuk apa saja, dapur mini, dan kamar mandi. Semua kamar memiliki jendela besar, begitu pula dengan dapur mini kami.


Setelah selesai membangun hexa house, saya lalu bertemu dengan teman-teman satu Co-Housing. Saya tergabung di co housing 1 cluster Keluarga. Ini dokumentasi kami saat pertemuan perdana dan memilih leader co-housing. Kami sepakat memilih mbak Rifa dari Bandung sebagai leader kami.



Alhamdulillah agenda demi agenda sudah terlalui. Akan ada kejutan apa lagi yaa? Insya Allah saya siap mengikuti permainan di kota ini sampai akhir 🤩🚀

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Jadi Fasilitator A Home Team

Hai-hai...  Saya punya cerita baru. Hehehe...  Jadi ceritanya saya lagi ikutan training fasilitator A Home Team dari ahometeam.id. A Home Team ini merupakan salah satu produknya Padepokan Margosari, keluarga panutan kami.  Dulu~ tanggal 14 Januari 2018 saya mengikuti workshop A Home Team yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional Jogja. Pak Dodik dan Bu Septi langsung yang memberi materi. Perasaan saya waktu itu? Waaah seneng bangett~ saya bersyukur bisa ikutan workshop meski nggak bisa couple sama suami karena beliau jagain anak-anak. Setelah workshop saya dapat bekal untuk membangun tim keluarga dan saya merasakan keluarga kami menjadi lebih kompak.  Sekarang, saya belajar lagi tentang A Home Team dengan niatan ingin menguatkan home team kami lewat berbagi dengan keluarga lain sebagai fasilitator. Meski materinya masih basic, namun tetap ada hal baru yang saya dapatkan. Apalagi keadaan keluarga kami dan tantangan yang kami hadapi sudah berbeda dengan empat tahun lal...

Jurnal 4 Bunda Salihah IIP : SMART Goals dan Sumber Daya

Alhamdulillah... Akhirnya bisa nulis jurnal lagi. Huhuhu~ Beneran lega dan bersyukur karena ternyata saya bisa bertahan... Di materi 3 dan Questival kemarin rasanya pengen mundur aja... Karena memang perkuliahan kali ini terasa lebih berat... Plus saya memilih untuk membangun tim sendiri dan ternyata tim saya hanya berdua dengan suami. Pas materi 3 beliau ke luar kota dan kami nggak punya banyak waktu untuk ngobrol bareng tentang kuliah di kampus Ibu Pembaharu ini. Pas Questival beliau baru pulang dari luar kota dan saya sempet sakit gara2 mau haid jadi ikutan Questival nggak bisa extra miles. Lalu yang sekarang ini beliau sibuk banget sama kerjaan kantornya, weekend yang biasanya di rumah pun harus dihabiskan di kantor. Hiks... Sempet terpikir untuk mengerjakan sendiri aja atau menawarkan beliau untuk nggak usah lanjut aja atau bahkan sayanya mundur dari perkuliahan ini, tapi ternyata akhirnya kami bisa menyempatkan untuk ngobrol bareng tentang SMART ini dan oret-oret template bareng....

Perjalanan Belajar Terbang Pekan Pertama

Alhamdulillah sudah sampai di pekan pertama tahap Kupu-kupu. Di pekan ini kami diibaratkan sebagai kupu-kupu muda yang baru belajar terbang.  Pembelajaran kali ini menggunakan fitur baru dari Facebook, yaitu fitur Mentorship. Setiap mahasiswa diminta mendaftar menjadi mentor untuk bidang yang dikuasainya, dan menjadi mentee untuk bidang yang akan dipelajarinya sesuai dengan peta belajarnya. Belajar Terbang Sebagai Mentor Awalnya saya bingung akan menjadi mentor di bidang apa. Saya sempat terpikirkan untuk menjadi mentor mengawal perkembangan anak usia 0-6 tahun. Kemudian keesokan harinya saya teringat bahwa selama lebih dari enam tahun kami sudah hidup tanpa TV dan kami bahagia dengan hal itu. Anak-anak kami tetap memiliki waktu melihat layar atau screentime, tetapi waktunya kami batasi dan durasi waktu tersebut sesuai kesepakatan kami dan anak-anak. Alhamdulillah selama ini anak-anak sangat minim aktivitas layar, sehari hanya maksimal 30 menit saja. Biasanya hanya 10-20 menit. Itu...