Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Jadi Fasilitator A Home Team

Hai-hai...  Saya punya cerita baru. Hehehe...  Jadi ceritanya saya lagi ikutan training fasilitator A Home Team dari ahometeam.id. A Home Team ini merupakan salah satu produknya Padepokan Margosari, keluarga panutan kami.  Dulu~ tanggal 14 Januari 2018 saya mengikuti workshop A Home Team yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional Jogja. Pak Dodik dan Bu Septi langsung yang memberi materi. Perasaan saya waktu itu? Waaah seneng bangett~ saya bersyukur bisa ikutan workshop meski nggak bisa couple sama suami karena beliau jagain anak-anak. Setelah workshop saya dapat bekal untuk membangun tim keluarga dan saya merasakan keluarga kami menjadi lebih kompak.  Sekarang, saya belajar lagi tentang A Home Team dengan niatan ingin menguatkan home team kami lewat berbagi dengan keluarga lain sebagai fasilitator. Meski materinya masih basic, namun tetap ada hal baru yang saya dapatkan. Apalagi keadaan keluarga kami dan tantangan yang kami hadapi sudah berbeda dengan empat tahun lalu.  Di pertemuan pe
Postingan terbaru

Games Passion Kaba Batch 2

Hai Hai... Setelah berbulan-bulan saya akhirnya kembali lagi ke sini. Hehehe... Terakhir bulan Maret, waktu nyoba ikutan Klip, dan.. Saya nggak konsisten. Hiks...  Nah, kali ini saya balik lagi ke sini buat apa? Buat nyimpen tugas hehehe..  Ceritanya lagi ikutan Kampung Bakat Batch 2 nih, dan saya memilih Kabin Boga. Yup, saya lagi mencoba menekuni passion baru saya, yaitu memasak.  Saya sama masak tuh kayak love hate relationship gitu. Saya suka masak, tapi kadang di beberapa waktu saya nggak mau masuk dapur, nggak ada semangatnya sama sekali. Tapi saya selalu bahagia setiap kali melihat hasil masakan saya dilahap habis oleh suami dan anak-anak, dan mereka sering bilang "masakan bunda lebih enak dari masakan katering" 😍 Hal yang paling bikin saya berbinar di dunia boga ini adalah mencoba resep yang bikin saya penasaran, dan berhasil selesai mengeksekusinya. Rasanya puaaaass banget! Tapi kalau untuk masak sehari-hari rasanya yaa biasa aja, nggak sampai yang berbinar banget.

Rapor saya di KLIP

Nggak terasa yaa udah masuk Maret aja, dan Maretnya udah tanggal 10! Dan tahu nggak sih? Di KLIP ternyata ada rapornya loh! Hehehe...  Januari, Februari, saya nggak konsisten nulis. Nggak konsisten setor. Alhasil rapor saya jelek. Saya dinyatakan hampir gugur karena selama Januari dan Februari lalu nggak dapat badge sama sekali. Heu... Kalo saya mau terus lanjut namanya ada di form setoran, saya harus dapat badge bulan ini. Hmmm... Apakah saya bisa? Akan saya coba!  Pas kapan itu saya pernah denger kalo KLIP memang nggak direkomendasikan untuk yang baru belajar nulis atau yang mau coba-coba aja. Kayak saya gini. Ternyata bener ya... Beneran menantang, butuh komitmen tinggi, butuh konsistensi tinggi, dan kalau cuma ikut-ikutan aja yaa.. Jadinya bakalan kayak saya ini. Dih malu euyyy...  Tapi saya pengen coba lagi bulan ini, meski dua bulan terakhir rapor saya jelek terus...  Saya pengen coba lagi karena saya ngerasa sebenernya menulis memang bantu saya jadi lebih baik. Entah itu sebagai

Bahasa Cinta

Bulan lalu, melalui HIMA, saya membuat sebuah acara sharing sesama member dengan tema self love dan self care. Narasumbernya tentu saja bukan saya, heu. Sebelumnya saya beberapa kali membaca tentang self care dan pernah mengikuti webinar tentang self love, tapi saya masih merasa bias dengan keduanya. Setelah mengikuti sharing dari teman di komunitas, saya baru ngeh perbedaan keduanya. Ternyata dibanding self care, saat ini saya lebih butuh self love. Dan self love ini ternyata memang berkaitan dengan bahasa cinta kita masing-masing loh.  Dulu, saya berpikir bahwa bahasa cinta saya itu cenderung ke sentuhan dan waktu berkualitas. Nggak salah sih, saya memang lebih memilih untuk bersama dengan orang yang dicintai meski nggak ngapa-ngapain daripada dikasih sesuatu. Tapi ternyata kata-kata positif menjadi bahasa cinta yang cukup dominan terutama apresiasi dan validasi. Entah memang iya atau hanya karena saya merasa kurang apresiasi aja. Hanya saja, yang saya rasakan setelah saya menuliskan

Surat untuk Diriku

Dear diriku, terima kasih banyak sudah berjuang hingga saat ini. Berjuang menjadi versi terbaik dirimu, berjuang menjalani berbagai peran yang tentunya tidak mudah, berjuang mengalahkan segala macam self talk yang tidak memberdayakan juga berjuang dari stigma negatif Ibu Rumah Tangga di luar sana.  Aku bangga padamu, aku bersyukur dengan semua yang sudah bisa kita lalui bersama. Dan ini semua tentunya atas izin Allah Yang Maha Rahim...  Kalau kita ingat, bagaimana kita bisa sampai di titik ini, rasanya air mata ini tak sanggup untuk tertahan. Kita pernah melalui masa-masa direndahkan dengan peran kita sebagai Ibu Rumah Tangga bahkan oleh sesama Ibu, kita juga pernah melalui masa-masa kebingungan apakah keputusan kita untuk tetap menjadi Ibu Rumah Tangga adalah keputusan yang tepat atau tidak, kita juga pernah merasa tak berdaya saat kita tak dianggap produktif oleh begitu banyak orang di luar sana hanya karena kita tidak menghasilkan rupiah dengan keringat kita sendiri, dan kita juga p

KLIP 2022, here we go!

Hello! Ini tulisan pertama di blog di tahun 2022. Agak kesiangan ya soalnya sekarang udah tanggal 16 Januari, hehehe... Tapi nggak papa deh daripada nggak sama sekali 😅 Nggak seperti tahun lalu yang akhir tahun dan awal tahunnya cukup santai, akhir tahun ini agak padat karena pengaruh aktivitas suami di kantor dan atmosfer mutasi di kantornya. Saya pun cukup hectic mempersiapkan acara di komunitas, padahal rasanya akhir tahun itu pengen banget liburan. Saya pun pernah berencana FSP kali ini pengen kemanaaa gitu, eh tapi sampai sekarang belum juga kesampaian. Hahahaha... FSPnya di rumah aja, dan nggak sefokus tahun lalu. Cuma bener-bener sambil nyantai dan ambil di momen yang pas. Nggak diagendakan spesifik kayak tahun lalu. Heu...  Seperti tahun sebelumnya, saya pun punya rencana untuk belajar hal baru tahun ini, atau membangun kebiasaan baik baru. Tahun ini saya ingin berperjalanan dengan KLIP, Kelas Literasi Ibu Profesional. Sebenernya tahun lalu sempet masuk FBG KLIP dan ikut dafta

Jurnal 8 Bunda Salihah IIP : Scale Up Impact

Masya Allah Alhamdulillah... Nggak terasa akhirnya sudah sampai di tahap kedelapan perkuliahan Bunda Salihah. Meski nampaknya ini adalah akhir dari perkuliahan, namun sejatinya kami baru akan memulai proses yang sebenarnya di ekosistem Ibu Pembaharu, kalau loloooss~ hehehe...  Yup. Seperti yang Ibu sampaikan, nggak semuanya bisa masuk ekosistem, hanya mereka yang sungguh-sungguh dan siap. Nanti akan ada seleksinya, dan seleksinya nggak main-main pastinya. Ada panelisnya, ada wawancara juga. Pas denger itu saya deg-degan. Sampe nggak bisa tidur semaleman setelah nyimak live Ibu. Kira-kira kalo yang kayak saya gini layak dan berhak ikut seleksi nggak ya? 😬 Hal lain yang membuat saya berdebar nggak karuan selesai menyimak kuliah dari Ibu adalah karena di tahap ini kami diminta menentukan kelulusan kami sendiri berdasarkan indikator yang kami buat sendiri. Jadi di awal perkuliahan memang sudah disampaikan kalau akan ada kriteria lulus administrasi yang ditentukan oleh tim Bunsal, dan ada